Berjilbab Dulu atau Memperbaiki Hati Dulu?

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Bapak ustadz yang terhormat, Saya ingin bertanya perihal jilbab. Saya mempunyai seorang teman yang bertanya mengenai jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab akan tetapi ia bingung apakah harus siap dan memperbaiki hati terlebih dahulu sebelum memakai jilbab atau langsung aja memakai jilbab dan urusan hati sambil berjalan?

Terima Kasih,

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Fahru







Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihihi ajma’in, wa ba’du. Antara hati dan perbuatan sebenarnya sama-sama penting, sehingga tidak perlu dipilih mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Lagi pula, sulit untuk menilai urusan hati atau membuat standarisasinya. Kalau alasan belum mau pakai jilbab karena hatinya ingin diberesi dulu, sebenarnya agak mengada-ada. Sebab siapa yang akan menilai bahwa hati seseorang sudah bersih dan baik? Dan bagaimana cara menilainya? Lalu sampai kapankah hatinya sudah bersih dan siap untuk pakai jilbab?

Sebenarnya kewajiban memakai jilbab tidak pernah mensyaratkan seseorang harus bersih dulu hatinya. Kewajiban itu langsung ada begitu seorang wanita muslimah masuk usia akil baligh. Dan satu-satunya tanda bahwa dia sudah wajib memakai jilbab adalah tepat ketika dia mendapat haidh pertama kalinya. Saat itulah dia dianggap oleh Allah SWT sudah waktunya untuk memakai jilbab. Tidak perlu menunggu ini dan itu, karena kewajiban itu sudah langsung dimulai saat itu juga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada anak wanita Abu Bakar ra, Asma’ binti Abu Bakar ra.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Asma’, seorang wanita bila telah haidh maka tidak boleh nampak darinya kecuali ini dan ini. Rasulullah SAW memberi isyarat kepada wajah dan tapak tangannya.”

Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa bila sudah bersih hatinya, atau bila sudah baik perilaku atau hal-hal lain, namun secara tegas beliau mengatakan bila sudah mendapat haidh. Artinya bila sudah masuk usia akil baligh, maka wajiblah setiap wanita yang mengaku beragama Islam untuk menutup auratnya. Dan uaratnya itu adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tapak tangan.

Ketentuan ini juga diperkuat dengan firman Allah SWT di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang kewajiban memakai kerudung yang dapat menutupi kepala, rambut, leher dan dada.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya… (QS. An-Nur : 31)

Namun bukan berarti kalau sudah pakai kerudung, boleh berhati jahat atau buruk. Tentu saja seorang wanita muslimah harus berhati baik, berakhlaq baik dan berperilaku yang mencerminkan nilai keimanan dirinya. Tapi semua itu bukan syarat untuk wajib pakai jilbab. Sebab keduanya adalah kewajiban yang tidak saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Wallahu A’lam Bish-shawab

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Sumber : akhwatmuslimah.com

Rendah Hati dan Saling Menasihati

“Bacalah…”, “Iqra’…” Perintah pertama, wahyu pertama, dan kunci pertama Allah ajarkan untuk Nabi Muhammad SAW dan Umatnya. Apa artinya?



Ada arti yang luar biasa strategis diinginkan dengan agama Nabi Muhammad SAW ini. Untuk bisa lebih memahami pentingnya perintah membaca ini, mari kita bandingkan Umat Muhammad dengan umat-umat sebelumnya.

Untuk meyakinkan membuat Fir’aun dan kaum Nabi Musa, Allah menunjukkan kemukjizatan yang irasional, yaitu tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Nabi Isa, Allah berikan kemampuan menghidupkan orang mati, membuat orang buta bisa melihat, menyembuhkan penyakit lepra yang di kala itu tidak dapat disembuhkan sama sekali. Bagaimana dengan Umat Muhammad SAW? Rasulullah bersabda:

“Tidak seorang nabi pun melainkan diberikan (mukjizat) yang membuat manusia beriman terhadap hal-hal seperti itu. Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Dan aku berharap menjadi (nabi) yang paling banyak pengikutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mukjizat Nabi Muhammad SAW bukan hal-hal yang irasional. Nabi Muhammad mengajak umat manusia beriman atas dasar kerja akal dan proses berpikir rasional. Mari renungkan perintah Allah untuk membaca tersebut:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Apa yang diperintahkan untuk dibaca? Tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Karena yang lebih penting adalah bagaimana proses membaca dilakukan. Sangat banyak hal-hal yang harus dibaca. Supaya proses membaca menjadi efektif dan bermanfaat, Allah ajarkan adalah bagaimana kita membaca. Karena itu secara gamblang Allah jelaskan how to-nya: “Bacalah dengan nama Sang Pencipta.” Proses membaca yang bermanfaat yang mendorong pada keimanan kepada Sang Pencipta. Kegiatan membaca yang efektif adalah membaca yang dimulai dengan keberkahan iman kepada Allah. Allah yang menciptakan manusia. Allah merupakan sumber ilmu. Allah yang dengan murah hati memberikan karunia-Nya kepada hamba-Nya.

Bahan bacaan yang paling baik adalah al-Qur’an. Kualitas bahan bacaan selalu ditentukan oleh kualitas sumbernya. Membaca tulisan yang dikarang seorang pakar di bidangnya tentu jauh bermanfaat dibandingkan tulisan yang dikarang oleh orang awam. Lalu bagaimana dengan bahan bacaan yang berasal dari Sang Pencipta Langit dan Bumi?

Membaca al-Qur’an berarti mengkonsumsi informasi yang paling berkualitas yang ada pada umat manusia. Membaca al-Qur’an berarti menyerap ilmu yang paling tinggi yang mungkin diraih manusia. Membaca al-Qur’an berarti melakukan peningkatan cakrawala dengan sarana terbaik. Membaca al-Qur’an berarti meningkatkan kualitas diri dengan nara sumber yang paling ideal yang tidak terbayangkan ketinggian kualitasnya.

Ada empat level dalam membaca al-Qur’an. Semuanya penuh berkah dan manfaat. Semakin tinggi level membaca seseorang, semakin besar manfaat yang diperoleh.

Level Pertama: Mengucapkan al-Qur’an dengan Benar

Rasulullah SAW, para sahabatnya dan para ulama sangat memberikan perhatian yang besar terhadap bagaimana mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an secara baik dan benar. Karena bentuk ideal transfer informasi adalah penyampaian redaksi secara tepat. Kesalahan pengucapan berakibat buruk pada proses transformasi informasi. Kalimat-kalimat ilahi dalam al-Qur’an bukan saja memuat informasi dan ajaran kebenaran dan keselamatan, tetapi juga memuat keindahan bahasa, ketinggian kualitas sastra, serta keagungan suasana ilahiyyah. Karena itu dalam membaca al-Qur’an sangat dianjurkan untuk memperhatikan adab-adabnya, seperti harus dalam keadaan suci, berpakaian menutup aurat, membaca dengan khusyu’, memperindah suara semampunya, dan memperhatikan tajwidnya. Rasulullah SAW bersabda:

“Perindahlah al-Qur’an dengan suara kalian.” (HR Abu Daud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Al-Qur’an adalah kata-kata dari Allah yang Maha Indah, karena itu semaksimal mungkin kita menerjemahkan keindahan tersebut dengan cara kita membaca. Meskipun demikian bukan berarti mereka yang tidak mampu mengucapkan al-Qur’an dengan fasih mereka tidak boleh membaca al-Qur’an. Cukup bagi seorang mukmin untuk berusaha sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW bersabda:

“Orang mahir membaca al-Qur’an, bersama dengan malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur’an terbata-bata dan mengalami kesulitan (mengucapkannya) dia mendapatkan dua pahala.” (HR Muslim)

Subhanallah, ini adalah kemurahan Allah SWT. Yang membaca al-Qur’an dengan penuh kesulitan dan terbata-bata Allah justru memberi dua pahala, yaitu pahala mengucapkan al-Qur’an dan pahala menghadapi kesulitan. Meskipun demikian yang mahir tetap mendapatkan kelebihan derajat yaitu kemuliaan bersama dengan para malaikat.

Level Kedua, Membaca dengan Pemahaman

Maksud dari semua perkataan adalah pemahaman terhadap makna dari perkataan tersebut. Demikian juga al-Qur’an. Allah menurunkan al-Qur’an kepada umat manusia bukan sekadar dibunyikan tanpa dipahami. Al-Qur’an bukanlah mantera-mantera yang diucapkan dengan komat-kamit. Al-Qur’an adalah petunjuk. Dan al-Qur’an tidak akan menjadi petunjuk jika maknanya tidak dipahami. Allah mengecam Ahlul Kitab yang merasa memiliki kitab suci tetapi tidak mengetahui isinya, Allah berfirman:

“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali angan-angan belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (QS.Al-Baqarah: 78).

Allah menyebut Ahlul Kitab sebagai “ummiyyin” padahal mereka mampu membaca dan menulis, tetapi karena mereka tidak mengetahui isi Kitab Suci mereka Allah menyebut mereka sebagai buta huruf. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa makna kata “amani” artinya membaca. Berdasarkan tafsir ini, kita memahami bahwa membaca saja tidak membuat kita mendapatkan hidayah jika kita tidak memahami dan mengetahui makna kalamullah.

Untuk memahami al-Qur’an tentu saja perlu mempelajari bahasanya. Bagi yang tidak mengetahui bahasa Arab, membaca terjemahan atau tafsir berbahasa Indonesia bisa dijadikan pengganti sebagai langkah darurat. Saya katakan itu adalah langkah darurat, karena ketinggian bahasa al-Qur’an tidak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Terjemahan al-Qur’an hakikatnya hanyalah terjemahan dari pemahaman sang penerjemah. Bahkan jika kita tanya kepada siapapun yang menerjemahkan al-Qur’an, pasti dia akan mengatakan tidak semua makna yang dikandung oleh lafal-lafal al-Qur’an dapat ditemukan padanannya pada bahasa lain.

Setingkat lebih baik dari terjemah al-Qur’an adalah terjemahan tafsir al-Qur’an, atau tafsir yang memang ditulis dalam bahasa Indonesia. Siapapun yang ingin mempelajari isi al-Qur’an tidak boleh melewatkan kitab-kitab tafsir. Seorang yang ahli bahasa Arab pun tidak akan tepat memahami al-Qur’an jika tidak mempelajari kitab tafsir. Karena sebagaimana halnya semua bahasa yang hidup adalah dinamis. Tidak semua kata-kata yang dipakai orang zaman sekarang memiliki makna yang sama dengan makna yang dipakai pada zaman turunnya al-Qur’an. Misalnya, kata ‘sayyaroh’ pada zaman ini berarti mobil, sedangkan dalam al-Qur’an ‘sayyaroh’ berarti kafilah dagang. Kata ‘qoryah’ di zaman sekarang dipakai untuk makna desa, sedangkan dalam al-Qur’an artinya adalah kota atau negeri.

Di sisi lain kitab-kitab tafsir beragam kualitasnya sesuai dengan kapasitas keilmuan penulisnya. Yang paling dekat dengan kebenaran adalah yang paling banyak menggali pemahaman dari wahyu itu sendiri. Metode yang paling baik dalam menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan Hadits Nabi, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan perkataan tabi’in, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan kaidah bahasa. Kitab tafsir yang paling baik menerapkan metode ini adalah Tafsir Ibnu Katsir.

Dikarenakan al-Qur’an kitab yang universal, maka setiap masa selalu membutuhkan penafsiran yang mengupas al-Qur’an terkait dengan isu-isu kontemporer. Pada abad ke-19 dan ke-20 muncul tafsir-tafsir kontemporer seperti al-Manar karya Rasyid Ridho, at-Tahrir wat-Tanwir karya Ibnu Asyur, Adhwa-ul Bayan karya Muhammad Amin asy-Syinqithy, dan yang fenomenal adalah Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb.

Level Ketiga, Membaca dengan Tadabbur

Al-Qur’an mendorong manusia untuk memfungsikan akal dan hatinya lebih jauh dari sekadar memahami, walaupun level memahami al-Qur’an adalah level aktivitas otak yang tinggi. Jika seseorang memahami Kalamullah berarti dia telah mencerna informasi yang luar biasa tinggi kualitasnya. Tetapi ternyata Allah menginginkan kapasitas pemikiran seorang muslim bergerak lebih jauh. Al-Qur’an mendorong akal dan hati untuk mentadabburi al-Qur’an. Tadabbur berarti deep thinking, merenungi, memperhatikan secara mendalam, menggali hakikat yang tersimpan di balik kata-kata, dan menyingkap horizon di belakang makna.

Hal itu karena hakikat-hakikat yang terangkum dalam al-Qur’an tidak semuanya hakikat yang permukaan yang sederhana dan mudah ditangkap. Banyak hakikat-hakikat yang membutuhkan pemikiran yang dalam, perenungan yang jauh serta pandangan yang tajam. Dan hal itu tidak mungkin didapatkan hanya sekadar dengan menangkap lapisan luar lafal-lafal al-Qur’an. Lebih jauh bahkan Allah menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan tujuan agar manusia mentadabburi ayat-ayat-Nya. Allah berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 76).

Untuk mentadabburi ayat-ayat Allah diperlukan hati yang bersih dan pemikiran yang tajam. Hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan mampu melihat secara jernih, karena syahwat akan banyak berbicara dan mengendalikan hati.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. al-Jatsiyah: 23).

Ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta juga hanya dapat ditangkap dan dipahami oleh hati-hati yang bersih.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab)” (QS. Ali Imran: 190).

Level Keempat, Membaca dengan Khusyu’

Masih ada plafon yang lebih tinggi di atas tadabbur? Ya, al-Qur’an terus mendorong manusia untuk terbang tinggi menuju ketinggian ruh, masuk ke alam penuh dengan keagungan ilahi dengan hati khusyu’ ruh sang mukmin menyaksikan keagungan Allah.

Setelah hati mampu melihat alam di belakang dunia materi, memahami hakikat di balik fenomena alam, ketika tirai tersingkap, hati mukmin yang mentadabburi al-Qur’an luluh. Hati tunduk melihat kebesaran Allah. Kulit bergetar merasakan keagungan Hakikat Mutlak.

“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. az-Zumar: 23).

Orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan ilmu ilahi, orang-orang yang kedalaman ilmunya kokoh akan bersujud tunduk, mata mereka akan memancarkan air mata kekhusyu’an setiap kali mereka diingatkan dengan ayat-ayat Allah, setiap kali hati mereka tersentuh dengan Kebenaran Ilahi Mutlak.

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (108) dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”. (109) dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. al-Isra’: 107-109).

Sumber : dakwatuna.com

Keajaiban Shalat Dhuha, Dari Membuka Rezeki Hingga Pintu Kesuksesan

Sudah banyak sekali orang yang merasakan keajaiban dari shalat dhuha. Pernahkah mendapatkan rezeki tanpa di duga, misalnya: mendapatkan kiriman makanan dari tetangga saat keuangan rumah tangga mulai menipis, atau mendapatkan pekerjaan begitu mudah.

Banyak Muslim yang meyakini bahwa salah satu keajaiban shalat Dhuha adalah memperlancar rezeki. Lebih dari itu, banyak pula Muslim yang telah membuktikan bahwa setelah rutin mengerjakan shalat Dhuha, rezekinya menjadi lebih lancar.





Mengapa demikian? Mari kita perhatikan terjemahan hadits-hadits mengenai shalat Dhuha yang mengaitkan dengan rezeki berikut ini:

Hadits shalat dhuha yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,“Setiap pagi, (1) setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. (2) Setiap tasbih adalah shadaqah,(3) setiap tahmid adalah shadaqah,(4) setiap tahlil adalah shadaqah, (5) setiap takbir adalah shadaqah, (6) menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, (7) dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim)

Juga Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda,“(8) Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “(9) Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, (10) engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

Dalam dua hadits ini dan hadits-hadits lain yang senada, Shalat Dhuha bernilai sedekah. Bukan sembarang sedekah, tetapi 360 sedekah. Sedangkan tiap sedekah akan dilipatgandakan oleh Allah. Subhanallah.

Kedua, dalam hadits Qudsi Allah berfirman akan menjamin rezeki hamba-hambaNya yang menjaga shalat Dhuha.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

Ketiga, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan derajatnya hasan shahih menurut Syaikh Al Albani.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan sepasukan tentara, mereka berhasil memperoleh harta rampasan perang yang banyak dan bergegas pulang. Kesuksesan perang, harta rampasan yang banyak dan pasukan kembali dengan selamat menjadi buah bibir di masyarakat.

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang (11) lebih banyak memperoleh harta rampasan, (12) bahkan keberhasilannya lebih cepat dibandingkan pasukan tentara itu? Hendaklah seseorang berwudhu lalu pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Dhuha. Maka orang itulah yang lebih cepat memenangkan peperangan, lebih banyak meraih harta rampasan dan lebih segera meraih kesuksesan.” (HR. Ahmad; hasan shahih)

Jika pada hadits-hadits sebelumnya shalat Dhuha dikaitkan dengan sedekah dan rezeki, pada hadits ini menjelaskan shalat Dhuha bahkan dapat membuat orang yang mengerjakannya dapat meraih kesuksesan dengan segera. Subhanallah, demikianlah keajaiban shalat dhuha. Mari berlomba-lomba dalam mengerjakannya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : www.ummi-online.com

Konfigurasi DHCP Client, NAT, Login Hotspot, Proxy, dan Bandwith Limit

seorang pengusaha memiliki 1buah gedung, ia ingin menghubungkan kedua gedung miliknya ke internet, masing-masing tersebut memiliki 4lantai yang akan dihubungkan ke internet. pada gedung "X" akan dibangun sebuah jaringan dimana lanti 1 dan 4 akan dibuat tidak bisa akses detik.com dengan bandwith limit 700Kb sedangkan pada lantai 2 dan 3 akan dibuat tidak bisa akses youtobe.com dengan bandwith limit 512Kb dan pada lantai 1 akan dibuat hotspot . 


1. Login Winbox
 


2. Cek Ethernet  
[admin@mikrotik]  > interface print

apabila wlan1 terdapat tanda "X" itu tandanya belum aktif sehingga harus diaktifkan terlebih dahulu.


3.  Mengkatifkan wlan1
[admin@mikrotik]  > interface enable wlan1



4. Memberi IP pada Interface
 [admin@mikrotik]  > ip address add address=192.168.1.1/24 interface=ether2
 [admin@mikrotik]  > ip address add address=192.168.1.1/24 interface=ether3
 [admin@mikrotik]  > ip address add address=192.168.1.1/24 interface=ether4
 [admin@mikrotik]  > ip address add address=192.168.1.1/24 interface=wlan1
 [admin@mikrotik]  > ip address print



 5. Konfigurasi DHCP Client 
interface yang dikinfigurasi untuk dhcp-client harus memiliki akses internet, disini saya menggunakan interface ether 1

 [admin@mikrotik]  > ip dhcp-client add interface=ether1
 [admin@mikrotik]  >ip dhcp-client enable number=0
lihat ip dhcp client
 [admin@mikrotik]  > ip dhcp-client pr
 
  

 Cek koneksi internet
 [admin@mikrotik]  > ping google.com



 6. NAT ether 2,3,4, agar dapat terhubung ke internet
 [admin@mikrotik]  >  ip firewall nat add chain=srcnat src-address=192.168.1.0/24 out-interface=ether1 action=masquerade 
 [admin@mikrotik]  >  ip firewall nat add chain=srcnat src-address=192.168.20.0/24 out-interface=ether1 action=masquerade 
 [admin@mikrotik]  >  ip firewall nat add chain=srcnat src-address=192.168.2.0/24 out-interface=ether1 action=masquerade 

Melihat interface yang sudah di NAT
 [admin@mikrotik]  >  ip firewall nat print




7.  Konfigurasi IP Hotspot pada interface wlan1

 [admin@mikrotik]  >  ip firewall nat setup
 

memberi nama ssid
 [admin@mikrotik]  >  interface wireless set ssid=gedungX number: 0
[admin@mikrotik]  >  interface wireless set mode=ap-bridge number: 0 




7. Konfigurasi proxy


 Buat jalur proxy




 Cek ip firewall nat 


Tambahkan web yang akan di blokir



8. Konfigurasi Bandwith limit 


9. Cek hasilnya 


proxy detik.com

proxy youtube.com


bandwith limit

bandwith limit

Hotdpot


Syifaaul Quluub Bi Liqooil Mahbuub

Kemajuan teknologi menyuguhkan kepada kita berbagai media komunikasi. Tidak semua orang memilih semuanya untuk digunakan sebagai sarana menyiasati jarak agar silaturahim tetap lancer. Begitu juga dengan saya.
Saya masih begitu menyukai jejaring sosial ini bernama Facebook justru karena kurang update nya sesuatu yang muncul di berandaku. Karena dengannya saya bisa menemukan memori-memori lama yang tetiba saja muncul. Ada tentang sesuatu yang terjadi satu jam yang lalu, dua jam yang lalu, tujuh belas jam yang lalu, atau bahkan sebulan yang lalu. Dan kadang saya masih bisa menemukan sesuatu hal yang saya justru sudah melupakan hal tersebut.

Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)


Saya masih menikmati media komunikasi via sms (short message service) dikarenakan dengannya saya bisa berkomunikasi dengan siapa saja yang ada di kontak HP saya, mulai dari kelas menengah ke bawah, menengah ke atas, anak kecil, orang tua, saudara, dan lain sebagainya. Karena kebanyakan mereka belum mengaktifkan media yang lain. Dan saya selalu berusaha merespon semua pesan yang masuk, meski kadang hanya sekadar mengucapkan terima kasih, iya, atau bilang oh.
Saya masih menikmati sarana komunikasi via telepon, karena dengannya saya bisa menghubungi seseorang yang sangat sibuk dengan urusan hariannya, sibuk dengan gadget nya, dan sibuk dengan aktivitas lainnya. Karena kita semua sepertinya sudah memahami bahwa dering tanda panggilan masuk itu sesuatu hal penting dan mendesak yang perlu untuk dikomunikasikan. Dan dengannya pula saya bisa berkomunikasi dengan lebih detail dan bisa menghindari multi tafsir dari maksud yang hendak saya sampaikan.

Sejauh ini pun, saya masih menikmati layanan berkirim soft file melalui email, yang dengannya saya juga bisa membagi dan menerima sesuatu, dan bisa tersimpan dalam jumlah yang besar yang suatu ketika sangat memungkinkan sekali untuk saya acak-acak lagi berkasnya.

Ya cukup ini dulu saja media komunikasi yang saya butuhkan sejauh ini. Mohon maaf, bagi yang ingin menghubungi saya di media lain, saya belum bisa melayani, sok penting, hehe. HP saya selalu aktif setidaknya 15 jam dalam sehari untuk merespon dan menjalin silaturahim di antara kita. Sampai detik ini, Saya pun masih memaksimalkan satu nomor yang saldo pulsanya selalu cukup untuk berkomunikasi.

Menirukan kalimatnya Pak Cahyadi Takaryawan:
“Teknologi tidak akan pernah menggantikan dan mengobati rasa rindu”

Yak, memang benar demikian. Dengan Facebook, Twiter, WhatsApp, Line, dll, Anda bisa saja berkomunikasi dengan siapapun di berbagai belahan dunia manapun, sangat cepat, hemat, praktis!

Tapi tetap saja: “Syifaaul quluub bi liqooil mahbuub”, Obatnya hati adalah bertemu dengan yang dicintai… Dan hari ini, sekarang ini… orang yang paling berhak mendapatkan sapaan dan senyuman hangat dari Anda, adalah mereka yang sedang ada di depan, samping, dan belakang Anda, Bukan mereka yang kau bilang teman dekat jauh di mata itu…

Mari jadi manusia yang tidak gagap teknologi. Ambil porsi yang sesuai dengan kebutuhan.

Bagaimana denganmu? Media komunikasi apa saja yang sudah kalian gunakan?

Saya pribadi, keempat media komunikasi yang saya sukai tersebut, saya masih lebih suka bertemu langsung untuk mengobati hati, menyemai rindu, berbagi kisah dan canda, atau sekadar sarapan bareng sebelum semua aktivitas seharian ini memisahkan kita dalam kebekuan yang tak berujung.

Al-Jazari, Perintis Teknologi Robotika

Pernah menonton film RoboCop, Wall-E, Transformers, dan film-film robot yang lain? Beberapa film tersebut mengangkat robot sebagai pemeran utamanya, dan itu hanya sebagian kecil dari banyaknya film robot yang telah dibuat untuk menunjukkan bahwa di masa depan manusia akan hidup berdampingan dengan produk teknologi yang berkembang pesat. Robot merupakan alat mekanik yang dapat melakukan tugas fisik, baik menggunakan pengawasan dan kontrol manusia, atau menggunakan program yang telah didefinisikan terlebih dahulu, dan tidak dipungkiri lagi, teknologi robot sudah banyak digunakan oleh banyak manusia untuk kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Hal ini diperkuat dengan semakin banyaknya penemuan-penemuan berbasis robotika yang diciptakan oleh inovator-inovator muda dewasa ini.

Sejarah mengenalkan Leonardo da Vinci sebagai perintis teknologi robot atas penemuannya pada tahun 1478, namun itu pun masih hanya dalam bentuk desain di atas kertas. Namun, sebenarnya di awal abad ke-13 M, seorang insinyur yang sangat Al-Jazari, sudah berhasil merancang dan menciptakan aneka bentuk robot pada awal abad ke-13 M. Atas dasar itulah, masyarakat sains modern menjulukinya sebagai ”Bapak Robot”. Dari sini kita tahu bahwa Peradaban Islam sudah lebih maju tiga abad dalam teknologi robotika dibandingkan peradaban Barat saat itu. Ibnu Ismail Al-Jazari, lahir di Al-Jazira, tepatnya di antara wilayah Sungai Tigris dan Efrat. Nama lengkapnya Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, pada abad ke-12. Seperti ayahnya ia bekerja pada raja-raja dinasti Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari tahun 1174 sampai tahun 1200 sebagai ahli teknik. Di masanya, Al Jazari telah mampu menciptakan robot manusia (humanoid) yang bisa diprogram. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. Adapun mesin robot yang diciptakan Al-Jazari kala itu berbentuk sebuah perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik; dua penabuh drum, satu pemetik harpa, dan peniup seruling. Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam suatu acara jamuan minum. Sebagai robot pemain musik, tentu saja mereka pun ahli menghasilkan suara musik yang indah. Misalnya saja, robot penabuh drum dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Jadi, robot itu pun bermain musik seperti manusia sungguhan!
Penemuan penting lainnya di era kejayaan Islam yang tak kalah menarik adalah pencuci tangan otomatis dengan mekanisme pengurasan. Mekanisme yang dikembangkan Al-Jazari itu, kini digunakan dalam sistem kerja toilet modern. Robot pencuci tangan otomatis itu berbentuk seorang wanita yang berdiri dengan sebuah baskom berisi air. Ketika seorang pengguna menahan tuas, air akan mengering dan robot wanita itu akan kembali mengisi baskom dengan air. Sistem pencuci tangan yang dikembangkan Al Jazari itu juga digunakan saat ini dalam sistem kerja toilet modern.


Teknologi robotika yang dikembangkan Al-Jazari mencapai 50 jenis dan semuanya ditulis dan digambarkan dalam kitabnya yang sangat legendaris, Al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Karyanya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Dalam kitab itu juga, Al-Jazari membeberkan secara detail beragam hal terkait mekanika. Tulisan Al-Jazari juga dianggap unik karena memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas. Karyanya juga dianggap sebagai sebuah manuskrip terkenal di dunia, yang dianggap sebagai teks penting untuk mempelajari sejarah teknologi. Isi kitabnya pun diilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Karena kontribusinya di bidang teknologi, pada abad ke-13 Al-Jazari mendapatkan gelar Ra’is Al-A’mal, sebuah gelar yang saat itu disematkan untuk para Insinyur dan Ahli Teknik di peradaban Islam. Tak heran, jika nama lengkap sang insinyur fenomenal itu adalah Al-Shaykh Rais al-Amal Badi al-Zaman Abu al-Izz ibn Ismail ibn al-Razzaz al-Jazari. Sedangkan titel Badi al-Zaman dan Al-Shaykh yang disandangnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ilmuwan yang unik, tak tertandingi kehebatannya, menguasai ilmu yang tinggi, serta bermartabat.

Dengan karyanya ini pulalah, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Al-Jazari memberikan kontribusi yang penting bagi dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negara Barat. Seorang ahli teknik Inggris, Donald Hill dengan bukunya yang berjudul Studies in Medieval Islamic Technology, begitu kagum dengan pencapaian Al Jazari. Ia berpendapat, ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin.” Salah satu karya Al-Jazari yang membuat Donald Hill kagum adalah jam gajah dengan cara kerjanya dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Replika jam gajah dapat dilihat saat ini di London Science Museum. Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.

Khatimah
Kontribusi ilmuwan Muslim di bidang teknik di saat itu telah membuat peradaban Islam semakin maju dan mandiri di seluruh aspek kehidupan. Penemuan-penemuan mengagumkan saat itu seharusnya membuat kita semakin termotivasi untuk selalu berkarya, mengingat pada waktu dewasa ini, banyak sekali innovator muda yang mencoba membuat alat berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk menciptakan kemudahan dalam segala aspek. Mulai dari transportasi, kehidupan rumah tangga bahkan sampai ke aspek ibadah. Jelas prestasi ini patut kita banggakan dan dijadikan cermin untuk meraih kemajuan di bidang IPTEK. Tentunya kemajuan yang dicapai di saat peradaban Islam itu berdiri kembali. (HYP)

OSPEK Sehat, Bukan OSPEK Ajang Bullying

Bulan Agustus hingga Oktober di kebanyakan perguruan tinggi Indonesia merupakan masa orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) bagi mahasiswa baru. OSPEK, sederhananya adalah ajang pengenalan dunia kampus bagi mahasiswa baru. Sayangnya, lekat diingatan kita pemberitaan betapa OSPEK seringkali menjadi ajang perpeloncoan dan bullying dari senior atau panitia pelaksana. Pemakaian berbagai atribut yang terkesan tidak berfaidah hingga kekerasan yang terjadi pada masa OSPEK, menimbulkan kekhawatiran tersendiri dari berbagai pihak yang mengharapkan terwujudnya OSPEK yang sehat.

Kekhawatiran berbagai pihak akan materi OSPEK, berujung pada tidak kondusifnya suasana untuk mewujudkan OSPEK sehat itu sendiri. Respon orang tua mahasiwa baru yang melarang anaknya mengikuti OSPEK, jajaran stakeholder perguruan tinggi yang jadi menaruh kekhawatiran berlebih pada OSPEK, akhirnya menyebabkan mahasiswa baru tidak optimal mendapatkan output OSPEK, yaitu pengenalan medan kampus. Dengan begitu, sebenarnya dibutuhkan pemahaman dan kerja sama yang baik dari pihak eksternal kampus, seperti orang tua mahasiswa baru, internal kampus, yaitu jajaran stakeholder perguruan tinggi dan mahasiswa sebagai panitia pelaksana serta mahasiswa baru itu sendiri sebagai objek, untuk mewujudkan OSPEK yang sehat.


Sebenarnya, apa yang dimaksud sebagai OSPEK sehat?

OSPEK yang sehat merupakan OSPEK yang bertujuan murni untuk membantu mahasiswa baru untuk lebih cepat mengenal medan kampusnya. Masa awal perkuliahan merupakan masa peralihan, dari status siswa menjadi mahasiswa, yang cukup berat bagi mahasiswa baru. Pada masa-masa ini, mahasiswa baru membutuhkan pemahaman yang cukup, setidaknya atas; sistem akademik yang berlaku di perguruan tinggi, sarana pengembangan diri di lingkungan kampus, peran dan fungsinya sebagai mahasiswa, hingga pengenalan wilayah kampus dan sekitarnya. OSPEK haruslah menjadi sarana akselerasi mahasiswa baru, agar dengan waktu yang relatif cepat dapat beradaptasi dengan kehidupan kampus sebagai mahasiswa. Karena tidak dapat dipungkiri, menjadi mahasiswa baru bukanlah hal yang sama dengan menjadi siswa baru. Menjadi mahasiswa baru, berarti bertransformasi menjadi pribadi-pribadi yang matang, yang tercerahkan melalui pendidikan tinggi dan siap membantu masyarakat yang lebih luas untuk menegakkan hal-hal yang benar. Mengingat, mendapat kesempatan mengeyam pendidikan tinggi di Indonesia adalah hal yang besar, hanya 30% rakyat berusia pendidikan tinggi yang mendapat kesempatan untuk berkuliah. Pemahaman akan transformasi diri tersebut, seharusnya dapat disampaikan dengan baik pada masa OSPEK sebagai salah satu ciri OSPEK yang sehat.

Peran Orang Tua Mahasiswa Baru

Orang tua mahasiswa baru sebaiknya berperan aktif memantau setiap tahap OSPEK yang dijalani anaknya. Orang tua harus menggali apa saja yang anaknya dapatkan selama dan setelah masa OSPEK. Dengan begitu, orang tua sebagai pihak luar, dapat mengetahui dengan baik apa yang sebenarnya anaknya ikuti, sekaligus dapat menjadi pengontrol, jika OSPEK yang dijalani mahasiswa baru sudah keluar dari batas kewajaran. Orang tua juga berkewajiban melaporkan kepada panitia pelaksana ataupun stakeholder perguruan tinggi jika menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam tahapan OSPEK, terutama apabila mengarah kepada perpeloncoan atau bullying.

Peran Stakeholder Perguruan Tinggi

Stakeholder perguruan tinggi, yang sederhananya sebagai pengayom juga pendidik mahasiswa wajiba bekerja sama dengan mahasiswa sebagai pelaksana teknis OSPEK. Bekerja sama dalam hal ini, berarti stakeholder perguruan tinggi bersama mahasiswa sebagai panitia pelaksana merancang kegiatan OSPEK yang dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa baru dari segi akademik maupun non-akademik. Kerja sama ini mutlak diperlukan, karena pemahaman akan dunia akademik dan non-akademik mahasiswa merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi seorang mahasiswa baru.

Peran Senior

Peran senior yang dapat diklasifikasikan sebagai panitia maupun sebagai kakak tingkat secara umum adalah membantu proses akselerasi transformasi mahasiswa baru dari siswa menjadi mahasiswa. Senior sebagai mahasiswa yang sudah lebih dahulu merasakan kehidupan kampus, hendaknya tidak menjadikan OSPEK sebagai ajang gagah-gagahan untuk melakukan bullying terhadap mahasiswa baru. Karena sesungguhnya, perilaku bullying yang terjadi di dunia kampus terlebih pada masa OSPEK bukan hanya menunjukkan sikap yang belum dewasa dari pelakunya, melainkan, juga sikap seseorang yang tidak patut disebut sebagai mahasiswa. Dengan keikhlasan niat untuk membantu proses akselerasi mahasiswa baru, OSPEK bukan hanya dapat berjalan dengan sehat dan lancar, melainkan, dunia kemahasiswaan juga akan senantiasa dinamis karena mendapatkan calon-calon penerus yang baru dan tercerahkan.

Peran Mahasiswa Baru

Mahasiswa baru sebagai objek OSPEK, sebaiknya berperan aktif dan berpikir kritis dalam mengikuti OSPEK. Manfaatkan kesempatan OSPEK untuk menggali sebanyak-banyaknya hal yang dibutuhkan untuk menjalani masa perkuliahan di kampus. Sikap pro aktif terhadap acara yang disajikan saat OSPEK maupun terhadap senior merupakan hal yang baik. Meski begitu, jika ada hal-hal yang mengarah kepada perpeloncoan ataupun bullying dari pihak manapun, melapor kepada penanggung jawab OSPEK dari pihak mahasiswa dan universitas merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemudian ditindaklanjuti oleh yang berwajib. Dengan memahami bersama apa yang dimaksud OSPEK sehat dan peran setiap unsur yang terlibat, semoga tidak ada lagi kesan OSPEK sebagai ajang perpeloncoan dan bullying senior, sehingga OSPEK mampu murni menjadi gerbang awal pengenalan dunia kampus yang memicu akselerasi transformasi diri mahasiswa baru.

Kategori

Kategori